get app
inews
Aa Text
Read Next : Ayra Azzahra Wakili Lumajang di Grand Final Putra Putri Jatim 2026

Tanggul dan 2 Check Dam Dibangun untuk Kurangi Risiko Lahar Semeru

Selasa, 25 Agustus 2026 | 20:33 WIB
header img
Petugas meninjau pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong dan check dam di Desa Supiturang, Lumajang, sebagai bagian dari upaya mitigasi aliran material vulkanik Gunung Semeru. Foto: iNewsLumajang.id/Yayan Nugroho

LUMAJANG, iNewsLumajang.id - Pemerintah memperkuat mitigasi bencana di kawasan rawan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Salah satunya melalui pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong dan dua unit check dam di Desa Supiturang.

Infrastruktur tersebut dibangun pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memperkuat sistem pengendalian aliran material vulkanik Gunung Semeru.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi risiko bencana, terutama di kawasan yang berada di sekitar jalur aliran material vulkanik.

"Pembangunan tanggul pengaman di Curah Lengkong serta dua unit check dam di Desa Supiturang telah berdiri," kata Isnugroho, saat dikonfirmasi, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan langkah antisipasi pemerintah untuk memperkuat perlindungan masyarakat di kawasan rawan bencana Semeru.

"Pemerintah pusat melalui BBWS bergerak proaktif memperkuat infrastruktur mitigasi bencana di kawasan rawan letusan Gunung Semeru," ujarnya.

Tanggul dan check dam tersebut berfungsi sebagai infrastruktur pengendali aliran material. Bangunan itu diharapkan dapat menahan atau memperlambat aliran material vulkanik sehingga dampaknya terhadap wilayah yang berada di jalur aliran dapat ditekan.

Risiko aliran material, terutama lahar, perlu diwaspadai saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi di kawasan hulu Gunung Semeru.

Isnugroho mengatakan keberadaan infrastruktur fisik tetap harus dibarengi dengan kesiapsiagaan masyarakat dan pemantauan kondisi kebencanaan.

"Dengan adanya infrastruktur tersebut, aliran material vulkanik diharapkan dapat lebih terkendali sehingga potensi dampaknya terhadap kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat dapat ditekan," jelasnya.

Masyarakat di kawasan rawan bencana juga diminta tetap mengenali potensi ancaman di lingkungannya, termasuk jalur aliran material, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan petugas kebencanaan.

Selain infrastruktur, mitigasi juga membutuhkan sistem peringatan dini, pemantauan kondisi sungai dan kawasan hulu, serta koordinasi antarinstansi.

Isnugroho menegaskan upaya mitigasi perlu dilakukan sebelum bencana terjadi dengan menggabungkan penguatan infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat, dan koordinasi lintas sektor.

"Mitigasi harus dilakukan sebelum bencana terjadi melalui kombinasi penguatan infrastruktur, kesiapsiagaan masyarakat, dan koordinasi lintas sektor," pungkasnya.

 

Editor : Diva Zahra

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut