PMI Jember Belajar Model Kemandirian Siaga Bencana Berbasis Masyarakat Tumpakrejo Malang
MALANG, iNewsLumajang.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember melakukan kunjungan pembelajaran ke Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Kamis (15/1/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk menggali strategi penguatan peran masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana secara mandiri.
Dalam kunjungan tersebut, PMI Jember mempelajari pola pengelolaan organisasi Sibat Tumpakrejo yang dinilai berhasil membangun kemandirian relawan melalui pendekatan edukasi kebencanaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketua PMI Jember, Zainollah, menyebut Sibat Tumpakrejo sebagai contoh nyata kelompok siaga bencana yang mampu bergerak aktif, bahkan tanpa harus menunggu momentum bencana.
“Sibat di sini sudah berjalan sejak akhir 2020 dan konsisten menggerakkan masyarakat, termasuk menggelar simulasi bencana secara mandiri. Kami ingin belajar bagaimana membangun partisipasi warga seperti ini,” ujar Zainollah.
Keberhasilan Sibat Tumpakrejo tak lepas dari dukungan berkelanjutan pemerintah desa. Kepala Desa Tumpakrejo, Miselan, menjelaskan bahwa pemerintah desa terus mengalokasikan anggaran untuk memperkuat kegiatan Sibat.
“Hingga tahun 2026, pemerintah desa masih memberikan dukungan anggaran sebesar Rp40 juta dari dana desa untuk mendukung kegiatan Sibat di masyarakat,” katanya.
Memasuki usia lima tahun sejak berdiri pada Februari 2021, Sibat Tumpakrejo kini telah mampu menjalankan program secara mandiri. Kemandirian tersebut didukung oleh pengembangan ekonomi kreatif yang dikelola para relawan.
Ketua Sibat Tumpakrejo, Misnan, menjelaskan bahwa kelompoknya mengembangkan usaha peternakan kambing dan pertanian sayur seperti timun, cabai, dan terong. Hasil usaha tersebut sebagian dialokasikan untuk mendanai program kebencanaan di desa.
“Keuntungan dari hasil panen kami sisihkan untuk membiayai kegiatan Sibat,” ungkap Misnan.
Selain fokus pada kebencanaan, Sibat Tumpakrejo juga aktif dalam kegiatan sosial dan kesehatan. Relawan Sibat, Resita, memaparkan bahwa organisasi tersebut terlibat dalam program penurunan angka stunting melalui kerja sama dengan Dinas Sosial, salah satunya lewat inisiatif Kampung Telur.
Tak hanya itu, peningkatan kapasitas masyarakat juga dilakukan dengan melibatkan linmas setempat, seperti pemasangan jalur evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama bagi tenaga pendidik.
Pada tahun 2026, Sibat Tumpakrejo telah menyusun sejumlah agenda prioritas yang didukung anggaran desa, di antaranya pelatihan Pertolongan Pertama Ekstrim, kajian risiko bencana, serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan desa.
Model kolaborasi yang diterapkan Sibat Tumpakrejo menunjukkan bahwa sinergi antara relawan, masyarakat, dan pemerintah desa mampu membentuk sistem ketangguhan bencana yang berkelanjutan dan berdampak luas.
Editor : Diva Zahra