get app
inews
Aa Text
Read Next : Pengunjung Pantai Membludak, Petugas Perketat Pengawasan Wisatawan Hingga Pasang CCTV

Harga Kedelai Impor Naik, Produsen Tempe di Lumajang Putar Otak agar Tetap Bertahan

Rabu, 01 April 2026 | 11:52 WIB
header img
Produsen tempe di Lumajang putar otak dampak kenaikan harga kedelai impor. Foto : Yayan Nugroho

LUMAJANG, iNewsLumajang.id - Kenaikan harga kedelai impor imbas konflik Iran–Israel–Amerika Serikat mulai dirasakan para produsen tempe di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Lonjakan harga bahan baku ini memaksa pelaku industri rumahan mencari cara agar produksi tetap berjalan tanpa merugi.

Salah satu sentra produksi tempe yang terdampak adalah Kampung Tempe Bagusari, Kelurahan Jogotrunan. Para pengrajin mengaku harga kedelai impor saat ini mencapai Rp10.500 per kilogram, naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp9.500 per kilogram.

Kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe mengalami kenaikan harga sejak sekitar satu bulan terakhir. Kondisi ini diduga berkaitan dengan dampak geopolitik global yang memengaruhi pasokan dan harga komoditas.

Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada biaya produksi. Para produsen pun harus memutar otak agar usaha mereka tetap bertahan, tanpa menurunkan kualitas produk yang dihasilkan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan metode giling kering pada kedelai. Cara ini dinilai mampu mengurangi penyusutan bahan baku saat proses perendaman dan fermentasi, sehingga hasil produksi tetap optimal.

Syaiful Amin, salah satu produsen tempe di kawasan tersebut, mengatakan kenaikan harga kedelai cukup membebani pelaku usaha.

“Harga kedelai impor saat ini Rp10.500 per kilo, kalau harga normalnya berkisar Rp9.000 sampai Rp9.500. Artinya ada kenaikan sekitar Rp1.000. Dampaknya, penghasilan berkurang karena biaya produksi bertambah,” ujarnya.

Para produsen tempe di Lumajang berharap harga kedelai impor dapat segera kembali normal. Dengan begitu, keberlangsungan produksi tempe sebagai salah satu pangan tradisional masyarakat tetap terjaga.

Editor : Diva Zahra

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut