LUMAJANG, iNewsLumajang.id - Kasus penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih menjadi perhatian serius. Hingga tahun 2026, sebanyak 264 anak tercatat menjalani pengobatan akibat kelainan jantung bawaan, ditambah 41 kasus baru yang ditemukan sepanjang tahun ini. Minimnya dokter spesialis jantung anak di Lumajang membuat sebagian pasien harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan medis.
Data tersebut dihimpun oleh Yayasan Adventure Makelar Surga (AMS) Lumajang, komunitas yang bergerak membantu pendampingan serta fasilitasi pengobatan anak penderita penyakit jantung bawaan.
Ketua Yayasan AMS Lumajang, Niken Suyanti, mengatakan kasus PJB di Lumajang masih cukup tinggi dan membutuhkan perhatian berbagai pihak.
“Total ada 264 penderita yang terdata di kami dan masih menjalani proses pengobatan. Tahun ini juga ditemukan 41 kasus baru,” ujar Niken saat kegiatan bakti sosial pemeriksaan kesehatan jantung anak, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, sebagian besar pasien membutuhkan tindakan operasi untuk memperbesar peluang kesembuhan. Namun, penanganan masih terkendala belum tersedianya dokter spesialis jantung anak di rumah sakit wilayah Lumajang.
Akibat kondisi tersebut, pasien harus menjalani pengobatan ke luar daerah dengan biaya yang cukup besar serta antrean pelayanan yang panjang.
“Karena belum ada dokter spesialis jantung anak di daerah, pasien masih harus dirujuk ke luar kota. Selain biaya besar, prosesnya juga harus menunggu antrean,” katanya.
Direktur Holding AUMKES PCM Sepanjang, Muhammad Hamdan, menyebut potensi kasus kelainan jantung bawaan di Lumajang sebenarnya cukup tinggi jika melihat angka kelahiran setiap tahun.
“Rasionya itu 8 sampai 10 per 1.000 kelahiran. Di Lumajang ini sekitar 14 ribu kelahiran setiap tahun, artinya ada sekitar 140 anak yang berisiko mengalami kelainan jantung bawaan,” ujar Hamdan.
Ia menambahkan, Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien penyakit jantung bawaan asal Lumajang. Rumah sakit tersebut selama ini menangani pasien rujukan anak dengan kelainan jantung yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan maupun tindakan medis lebih intensif.
Di sisi lain, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan pemerintah daerah tengah berupaya menghadirkan dokter spesialis jantung anak di rumah sakit daerah.
Pemkab Lumajang saat ini telah menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga untuk menyiapkan tenaga dokter spesialis melalui program pendidikan dokter spesialis (PPDS).
“Kami sudah bekerja sama dengan Universitas Airlangga agar nantinya ada dokter yang bisa mengisi kebutuhan spesialis jantung anak di rumah sakit Lumajang,” ujar Indah.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan Yayasan AMS melalui kegiatan bakti sosial sangat membantu penanganan anak penderita penyakit jantung bawaan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan dan kerja sama semua pihak untuk membantu anak-anak yang terindikasi kelainan jantung,” pungkasnya.
Editor : Diva Zahra
Artikel Terkait
